Senin, 31 Agustus 2020

Tips Mendaki Gunung Bersama Anak

Mendaki Bersama Anak

Kegiatan mendaki gunung sudah sangat tren belakangan ini, tidak seperti pada tahun 90_an sampai pertengahan tahun 2000 pendakian hanya dilakukan oleh para anggota Pecinta Alam. Tidak jarang kita lihat di media sosial para orang tua membawa serta anak-anaknya untuk mendaki gunung. Tentu saja hal ini akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi para orang tua yang mampu membawa anaknya mencapai ketinggian. 
Bukit Nanggi 2.300 MDPL
Selain bisa mendatangkan kepuasan tersendiri bagi para orang tua, sebenarnya kegiatan mendaki gunung juga sangat bagus untuk tumbuh kembang anak. Setidaknya dengan mendaki gunung kita bisa mengajarkan beberapa hal kepada anak:

1. Menumbuhkan rasa peduli kepada alam dan lingkungan
Dengan mengajak anak-anak mendaki gunung setidaknya kita sudah memperkenalkan alam sekitar kepada anak, baik dari segi keindahannya, flora maupun fauna. Sambil mendaki para orang tua juga bisa  memberikan penjelasan secara sederhana pentingnya menjaga alam dan lingkungan sekitarnya agar bisa dinikmati oleh orang lain di masa yang akan datang.

2. Belajar mengenai arti sebuah proses dan perjuangan
Mendaki gunung adalah sebuah proses panjang dari sebelum berangkat sampai kembali lagi ke rumah dengan selamat. Sebisa mungkin libatkan anak dalam proses pendakian tersebut, dari persiapan peralatan, perbekalan dll. Sehingga anak-anak bisa memahami jika mendaki gunung butuh proses untuk bisa sampai ke puncak. Yang tidak kalah penting adalah tekankan arti perjuangan dan kerja keras saat proses mendaki, sehingga anak-anak bisa faham jika mendaki gunung membutuhkan tenaga dan perjuangan keras untuk melangkahkan kaki dari bawah sampai puncak gunung.

3. Mengerti arti support dari orang tua
Sebagai orang tua kita harus rajin memberikan support kepada anak selama pendakian, terutama ketika anak sudah mulai kelihatan lelah. Berikanlah kata-kata yang bisa menumbuhkan semangatnya di sela-sela istirahat sambil menikmati makanan ringan selama mendaki. Bagaimanapun juga anak-anak harus faham jika selama mendaki selalu medapatkan dukungan dan support dari orang tua.

Support terus anak agar kuat melangkah selama pendakian


4. Belajar kerja sama
Ketika mendaki gunung bersama anak-anak usahakan untuk membawa serta orang dewasa lain dalam sebuah tim. Selain karena untuk berjaga-jaga dengan kondisi si kecil, agar anak-anak juga bisa melihat langsung bagaimana anda sebagai orang tua bekerja sama dengan anggota tim yang lain. Anak-anak akan melihat bagaimana anggota tim saling berbagi tugas dari mengambil air, memasak dan lain-lain. Usahakan selama mendaki anak-anak melihat langsung proses tersebut sambil duduk-duduk di dalam tenda dengan pintu terbuka. 


5. Mengerti arti tanggung jawab dan mandiri.
Selama mendaki gunung hendaknya sebagai orang tua mulai memberikan sebuah beban kecil yang bisa menjadi tanggung jawabnya selama mendaki. Para orang tua bisa memberikan sebuah tas kecil yang berisi jaket, snack dan air minum selama perjalanan. Tentu saja besar dan beban tas disesuaikan dengan umurnya agar tidak membahayakan anak selama pendakian. Tekankan jika isi tas tidak boleh hilang dan hanya dibuka saat dibutuhkan saja. Pesan kepada anak jika merasa lapar dan haus harus membuka bekalnya sendiri yang ada dalam tas, tanpa harus meminta bantuan kepada anda sebagai orang tua.

Berikan anak membawa tas perbekalannya sendiri

Berapa usia yang pas untuk anak mendaki gunung
Sebenarnya tidak ada ketentuan pada usia berapa kita bisa membawa serta anak mendaki gunung, karena tergantung kesiapan dan kemampuan orang tua dalam melihat kondisi dan kesiapan anak. Namun jika kita bermaksud agar anak bisa mendapatkan pelajaran dalam proses pendakian gunung seperti yang terbut di atas, alangkah baiknya anak dibawa mendaki setelah usia 9 tahun untuk gunung dengan ketinggian > 3.500 MDPL. Untuk mendaki gunung atau bukit dengan ketinggian 2.500 MDPL anak usia < 5 tahun juga bisa diajak ikut serta. Tidak jarang kita melihat ada orang tua yang membawa anaknya yang masih bayi dan berumur < 3 tahun mendaki gunung dengan ketinggian > 3.500 MDPL. Hal ini tidaklah salah cuma tidak direkomendasikan, karena pada usia tersebut fisik anak masih lemah dan jutru akan menjadi beban orang tua. Karena sudah pasti selama perjalan anak seusia itu akan selalu digendong dan tidak mungkin akan bisa berjalan dengan kondisi menanjak dan terjal. Hal yang paling penting untuk mengajarkan anak akan banyak hal selama mendaki gunung seperti penjelasan diatas tidak akan bisa di usia tersebut. Jangan sampai keinginan membawa anak mendaki gunung hanya karena ego dan kepuasan orang tua saja tanpa memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak. Karena jika hanya karena memuaskan ego orang tua saja hal-hal penting yang bisa diketahui dan dipelajari anak selama proses pendakian gunung justru tidak akan kita dapatkan. 

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum membawa anak mendaki
Sebagai orang tua tentu kita harus bijak sebelum membawa anak mendaki gunung, jangan sampai karena ego sebagai orang tua justru akan menjadi petaka dan trauma bagi tumbuh kembang anak di masa yang akan datang. Sebelum mendaki perhatikanlah beberapa hal agar pendakian bersama anak menjadi aman dan nyaman.

1. Pahami kondisi anak
Di dunia ini tidak ada yang lebih memahami kondisi seorang anak selain orang tuanya sendiri. Perhatikanah tingkah polah anak anda, apakah ia suka kegiatan di luar ruangan atau justru ia lebih suka berdiam di rumah dan jalan-jalan ke mall. Jangan memaksakan harus membawanya karena nanti justru akan mengakibatkan ketidaknyamanan bagi anak itu sendiri. Yang tidak kalah penting adalah perhatikan kondisi fisik si anak, bagaimana reaksinya terhadap udara panas, dingin dan kelembaban. Hal ini sangat penting agar anak tidak mengalami sakit selama pendakian yang justru bisa membahayakan keselamatannya. Bila perlu pancing anak untuk latihan lari tiap pagi sebelum diajak mendaki. 

2. Kenali medan gunung yang akan di daki
Dalam hal ini orang tua diharapkan untuk lebih detail mengetahui kondisi medan dan ketinggian gunung yang akan didaki bersama anak. Usahakan membawa anak mendaki gunung dengan bertahap sesuai dengan usianya, jangan sampai langsung membawanya ke ketinggian > 3.500 MDPL. Selain ketinggian, kontur tanah dan kemiringannya juga harus diperhatikan apakah akan melewati medan yang berbahaya atau tidak. Hal ini sangat penting demi keselamatan si buah hati selama pendakian. Jika ingin membawa anak usia < 5 tahun alangkah baiknya dibawa mendaki ke gunung atau bukit dengan ketinggian < 2.500 MDPL, tentu saja dengan medan yang masih memungkinkan untuk anak-anak. Jika anak sudah berumur 9 tahun bisa dibawa ke ketinggian > 3.500 karena di usia tersebut fisik anak sudah lebih kuat dan sudah bisa memahami proses pendakian. Pada usia tersebut anak-anak sudah bisa menangkap dan memahami hal-hal yang mau kita ajarkan kepadanya selama pendakian.

Sesuaikan ketinggian gunung yang akan didaki dengan umur dan fisik anak

3. Rencanakan dengan baik
Mendaki gunung bersama anak bukanlah pekerjaan yang gampang, karena orang tua selain membawa beban "carrier" dipunggungnya tentu saja akan memikul beban extra yaitu anak. Untuk anak usia < 3 tahun para orang tua harus mempersiapkan gendongan alias "Child Carrier" yang sudah pasti akan membutuhkan orang lain dalam tim untuk membawakan "Carrier" yang berisi peralatan dan kebutuhan kita bersama anak selama mendaki. Persiapan perbekalan (logistik) harus diperhatikan dengan priorotas utama perbekalan untuk anak, dimana selera makan kita dengan anak-anak pasti berbeda. Persiapkan snack padat kalori yang menjadi kesukaan anak seperti coklat, susu dll, karena pada saat pendakian anak-anak akan lebih cepat meraskan lapar dibandingkan dengan orang dewasa. 

4. Siapkan peralatan mendaki yang baik untuk anak
Yang tidak kalah penting sebelum pendakian adalah menyiapkan peralatan mendaki yang baik untuk anak-anak. Dalam hal ini adalah peralatan yang mendukung dia menghadapi medan dan cuaca ekstrim selama pendakian. Sebagai orang tua yang perlu disiapkan adalah sepatu, pakaian ganti, jaket tebal untuk menghangatkan tubuh, serta tas yang akan dibawa. Untuk orang tua yang membawa anak usia < 3 tahun yang butuh"Child Carrier", usahakan spesifikasinya memang untuk mendaki yang saat ini sudah banyak dijual secara online. Hal ini dimaksudkan demi kenyamanan selama mendaki.

5. Jangan mendaki berdua bersama anak
Jika tekad sebagai orang tua sudah bulat untuk membawa anak mendaki gunung, maka usahakan membawa serta orang dewasa lain dalam tim. Karena bagaimanapun kuatnya anda sebagai orang tua akan mengalami kesulitan dalam menjaga dan mengurus kebutuhan anak selama di atas gunung. Disamping itu dengan kita mendaki bersama orang lain dalam tim, anak akan bisa belajar maksimal akan pentingnya arti kerja sama antar anggota tim selama proses pendakian. Hal ini penting bagi anak untuk proses tumbuh kembangnya kelak di kemudian hari. Mendaki bersama orang lain dalam sebuah tim juga untuk berjaga-jaga atas segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Mendakilah bersama orang dewasa lain dalam sebuah tim 

6. Jangan lepas pengawasan
Saat mendaki gunung pengawasan orang tua kepada anak harus ekstra terutama di jalur yang dirasa rawan dan berbahaya. Jangan sampai kelengahan orang tua justru mendatangkan bencana bagi anak. Sebisa mungkin selalu berjalan di dekat anak dan tidak membuat jarak selama pendakian, begitu juga saat di base camp. Karena biasanya jika sudah di base camp atau puncak kondisi sekitar sudah penuh jurang yang dalam. Pengawasan harus ekstra termasuk ketika anak mau buang air (BAK maupun BAB).

Selalu awasi anak selama dalam pendakian
Mendaki bersama anak dan keluarga memang mengasyikkan, tapi jangan sampai karena keinginan dan ego sebagai orang tua justru membahayakan keselamatan anak itu sendiri. Bagaimanapun juga keputusan membawa anak mendaki ada di tangan kita sebagai orang tua. Tapi ingat mendaki gunung bukanlah sekedar foto bersama anak dan keluarga di puncak gunung yang kemudian di upload ke akun media sosial. Tapi lebih dari itu kita harus tetap memperhatikan keselamatan anak dan bisa memberikan pelajaran yang berarti bagi tumbuh kembang anak.

Selamat mendaki....


Minggu, 30 Agustus 2020

Materi Survival

 SURVIVAL
Pendakian gunung adalah salah satu jenis kegiatan yang akhir-akhir ini begitu hits di kalangan mellenial. Sayangnya tidak semua pendaki gunung saat ini yang faham betul mengenai pengetahuan Survival, sehingga sering jatuh korban meninggal dunia diantara para pendaki. Hal ini tidaklah mengherankan karena saat ini dengan modal uang dan menyewa alat-alat gunung semua orang bisa mendaki gunung.
Lokasi: Gunung Tambora jalur Desa Pancasila
Survival berasal dari kata Bahasa Inggris"Survive" yang artinya bertahan hidup atau menyelamatkan hidup. Sedangkan kata "Survival" sendiri mengandung makna suatu kondisi tertentu yang menuntut seseorang untuk mempertahankan hidupnya dalam kondisi yang buruk atau kritis di suatu daerah yang asing atau belum pernah ditemuinya. Sedangkan Survivor adalah seseorang yang mempertahankan hidupnya dari suatu kondisi yang buruk atau kritis di daerah yang asing. Pengetahuan Survival sangat dibutuhkan oleh seorang pegiat alam bebas untuk mengantisipasi kondisi di luar kendali ketika melakukan kegiatan di alam bebas. Mendaki gunung adalah salah satu contoh kegiatan di alam bebas yang membutuhkan pengetahuan Survival.

Menurut buku komando Survival definisi Survival adalah sebagai berikut:
  • Sadarilah sungguh-sungguh situasimu
  • Untung malang tergantung ketenanganmu
  • Rasa takut dan panik harus kamu kuasai
  • Vakum (kosong) isilah dengan segera
  • Iingatlah selalu dimana kamu berada
  • Viva (hidup) hargailah dia
  • Adat istiadat setempat patut ditiru
  • Latihlah dirimu dan belajarlah selalu
Statistik menunjukkan bahwa kemampuan seorang Survivor untuk bertahan hidup rata-rata adalah 3 hari atau selama 72 jam. Sedangkan yang bisa hidup diatasa 3 hari adalah 5 persen, dan itupun karena didukung oleh kekuatan fisik dan pengetahuan Survival yang cukup baik.
Hal yang sangat dibutuhkan seorang Survivor ketika menghadapi kondisi Survival adalah tetap tenang dan tidak panik. Kenali daerah sekitar dengan melihat bentangan alam serta flora dan fauna di sekitar, dan tidak tergesa-gesa dalam menentukan prioritas Survival yang beresiko keliru. Dalam kondisi Survival diperlukan pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan tubuh. Dalam hal ini adalah memahami reaksi atau dampak dari pengaruh lingkungan. Tantangan terberat adalah sikap mental atau psikologis dalam menghadapi situasi buruk atau kritis.

Jika tersesat hal yang perlu dilakukan adalah STOP:
  • Stop and seating/ Berhenti dan duduklah
  • Thingking/ Berpikirlah
  • Observe/ Amati keadaaan sekitar
  • Planning/ Buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan
Berikut adalah contoh prioritas dalam kondisi Survival:
  1. Yang paling utama tentunya adalah udara, bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapatkan prioritas untuk bisa bertahan hidup.
  2. Selanjutnya adalah perlindungan diri dari cuaca buruk dan keganasan alam. Jika tidak ada tenda atau gua dan tidak sempat membuat bivak maka membuat perapian bisa menjadi pilihan kedua.
  3. Istirah adalah hal yang kelihatan sepele namun sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena dengan istirhat tubuh akan terbebas dari CO2 , asam dan pemborosan metabolisme lainnya. Dalam hal ini istrihat mental termasuk hal yang sangat menetukan, sebab stress bisa mengurangi kemampuan untuk bertahan hidup. 
  4. Kebutuhan air, karena tubuh manusia 2/3 terdiri dari cairan maka ketersediaan air sangat menentukan dalam kondisi Survival. Usahakan untuk menghemat air jika belum menemukan sumber air, karena tanpa air manusia hanya bisa berahan hidup hanya dalam 3 hari atau 72 jam. 
  5. Ketersediaan makanan juga harus diperhatikan dan bisa memanfaatkan pengetahuan flora dan fauna untuk mencari sumber makanan. Karena di alam bebas tidak semua flora dan fauna bisa dimakan, karena ada beberapa diantaranya mengandung racun yang justru sangat berbahaya bagi hidup. Hindari makan jamur karena selain beresiko mengandung racun, kandungan kalori jamur juga sangat rendah. Tapi berdasarkan catatan, manusia bisa bertahan hidup tanpa makanan selama 40 - 70 hari.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam kondisi Survival:
1. Sikap metal: semangat untuk ingin tetap hidup, kepercayaan diri, akal sehat, disiplin dan rencana matang, serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman.
2. Pengetahuan: cara membuat bivak, cara memperoleh air, cara mendapatkan makanan, cara membuat api, pengetahuan orientasi medan (navigasi) dll.
3. Pengalaman dan latihan: latihan mengidentifikasi tanaman, latihan membuat perangkap (trap) dll.
4. Peralatan: kotak survival, pisau jungle dll

Contoh tool kits Survival (Sumber google pictures)


Bahaya-bahaya yang dihadapi dalam kondisi Survival antara lain:

1. Ketegangan atau panik
Cara pencegahan: sering berlatih, berfikir positif, optimis, persiapan fisik dan mental.
2. Panas matahari
Cara pencegahan: Aklimatisasi yaitu penyesuaian diri dengan iklim dan lingkungan, mengurangi aktifitas, garam dapur (inilah fungsi utama membawa garam jika naik gunung bukan ditebarkan disekitar tenda untuk mencegah binatang melata seperti ular), memakai pakaian longgar.
3. Kemerosotan mental
Gejalanya adalah: lemah, lesu, kurang bisa berfikir dengan baik, histeris. Penyebabnya adalah kejiwaan dan kondisi fisik lemah serta kondisi alam yang mencekam. 
Pencegahan: tentu saja dengan tetap tenang dan banyak berlatih.
4. Binatang berbisa dan beracun
Gejala: pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, diare, kejang-kejang sekujur badan bahkan pingsan. Pencegahan: hindari memamakan tumbuhan atau hewan yang mengandung racun, minum air garam atau air teh pekat.
5. Kelelahan akut
Pencegahan: makan makanan yang mengadung kalori dan mengurangi kegiatan yang berat dan berbahaya. Lindungi badan dari suhu ekstrim karena penurunan suhu tubuh dibawah 30° C bisa menyebabkan kematian.

Dalam kondisi Survival seorang Survivor juga bisa melakukan beberapa hal:
1. Membuat Bivak atau Shelter perlindungan baik dari cuaca ekstrim maupun binatang buas.
2. membaca dan membuat jejak yang bisa dilihat oleh orang, misalnya dengan membuat tanda pada batang-batang pohon.
3. Mencari sungai dan mengikuti alur sungai, karena sungai juga merupakan sumber air yang sangat membantu dalam kondisi Survival.
4. Membuat perapian agar asapnya bisa terlihat oleh orang lain, hal ini sangat membantu Survivor untuk membeitahukan keberadaannya.
5. Membunyikan peluit, usahakan membawa peluit yang suaranya tidak sama dengan suara hewan seperti burung dll. Peluit juga bisa digunakan untuk mengirimkan sandi morse kepada orang lain yang mungkin berada di sekitar lokasi Survivor.

Sebisa mungkin dalam setiap kegiatan alam bebas selalu membawa Survival tool kits yang terdiri dari: mata pancing/ kait, jarum, benang, peniti, tali kecil (prusik), cermin suryakanta atau cermin kecil, senter, peluit, korek api yang tersimpan dalam tempat kedap air agar tidak basah, ponco/ jas hujan/ rain coat dll. Karena kesiapan anda sebelum melakukan kegiatan di alam bebas akan sangat menentukan hidup anda ketika dalam kondisi Survival dan menjadi seorang Survivor.


*Dari berbagai sumber


Hargai Hidup Anda...
Salam Lestari...




Selasa, 16 Juni 2020

Bukit Pergasingan

Bukit Pergasingan

Jika berkunjung ke Lombok, maka kurang afdol rasanya jika tidak mengunjungi obyek wisata Sembalun yang berada di kaki Gunung Rinjani. Bagi anda yang suka naik gunung tapi memiliki waktu yang terbatas, maka Bukit Pergasingan bisa menjadi pilihan. Bukit Pergasingan merupakan salah satu gugus perbukitan yang berada di sebelah timur Gunung Rinjani, yang masuk wilayah Desa Sembalun Lawang. Posisi Bukit Pergasingan tepat berada di sisi timur Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). 

Jalan menuju gerbang pendakian ke Bukit Pergasingan bisa melalui simpang di tikungan sebelum  BTNGR maupun simpang tiga setelah BTNGR. Setelah masuk disimpang jalan tersebut nanti kita akan bertemu simpang lagi melewati rumah penduduk. Jika membawa kendaraan sendiri bisa menitipkan kendaraan di rumah-rumah penduduk yang memang diperuntukkan sebagai tempat parkir dengan membayar biaya parkir. Jika tidak ada waktu menginap anda bisa mendaki bolak balik atau istilah kerennya "tek tok". Waktu tempuh ke Bukit pergasingan berkisar antara 2 - 3 jam, jadi sangat memungkinkan untuk "tek tok". Beberapa pendaki malah menjadikan Bukit Pergasingan sebagai "tempat latihan" Summit Attack bagi yang mau mendaki Rinjani.

Gerbang Pendakian Bukit Pergasingan

Dari gerbang pendakian menuju punggungan bukit membutuhkan waktu 1 - 1,5 jam perjalanan. Perjalanan ke punggungan bukit harus ekstra hati-hati karena lumayan terjal dan melewati beberapa celah batu yang mengharuskan kita untuk berpegangan melewatinya. Jangan sungkan minta bantuan teman untuk membantu menaiki celah batu jika memang ragu untuk berpegangan pada batu-batu yang akan dilewati. 

Setelah melewati punggungan bukit barulah kita akan sampai di puncak Bukit Pergasingan. Alangkah baiknya saat tiba di puncak bukit untuk langsung mendirikan tenda sambil membuat kopi atau minuman hangat lainnya. Yang harus diingat saat mendirikan tenda adalah patok tenda harus kuat, karena angin malam dari arah timur laut lumayan kencang.

Camping area Bukit Pergasingan

Sembari menunggu sunset di balik gunung Rinjani, tidak ada salahnya menikmati kopi sambil bernyanyi ataupun ngobrol santai.

Menunggu sunset di Bukit Pergasingan

Menikmati kabut dingin sambil foto bersama juga mendatangkan sensasi tersendiri di Bukit Pergasingan. 

Menikmati kabut sambil berfoto

Saat paling ditunggu di Bukit Pergasingan adalah pemandangan sunsetnya jika kondisi sedang cerah. Jangan lupa abadikan dalam jepretan kamera sebagai kenang-kenangan. Saat sunset tiba areal sekitar puncak Rinjani akan berwarna kemerahan diterpa sinar mentari senja.

Sunset di Bukit Pergasingan

Setelah puas menikmati senja dan bermalam di Bukit Pergasingan, jangan lupa untuk membawa sampah anda turun kembali dari puncak bukit.

Rabu, 08 April 2020

Tasawuf Dalam Masyarakat Sasak

Tasawuf Dalam Masyarakat Sasak

Suku Sasak adalah penduduk asli Pulau Lombok, dan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Kata Sasak sendiri berasal dari penyebutan lisan "Sa' Saq" yang berarti "Yang Satu". Sedangkan kata Lombok sendiri berasal dari kata "Lomboq" yang berarti "Lurus". Agama Islam diperkirakan masuk ke Lombok pada abad ke 16 M yaitu pada tahun 1545 M. Penyebarnya yang terkenal adalah Sunan Prapen, salah seorang putera Sunan Giri. 

Seiring dengan perkembangan Agama Islam, masyarakat Lombok juga mengenal adanya ilmu Tasawuf di kemudian hari. Tasawuf merupaka jalan untuk mengenal Allah (Ma'rifatullah) dengan sebanar-benarnya melalui tersingkapnya pembatas (hijab) yang mebatasi hamba dengan Allah. Untuk mencapai derajat kesempurnaan (Insan Kamil). Tasawuf adalah pelatihan dengan kesungguhan untuk dapat membersihkan, memperdalam, mensucikan jiwa atau rohani manusia. Hal ini dilakukan untuk melakukan pendekatan atau taqarrub kepada Allah dan dengannya segala hidup dan fokus yang dilakukan hanya untuk Allah semata. 

Mengenai Tasawuf beberapa sufi menyandarkan pengertian dan dasar-dasarnya kepada ayat Al Qur'an. Berikut adalah ayat-ayat Al Qur'an yang berkenaan dasar Tasawuf menurut beberapa sufi:
1. QS Al Baqarah ayat 115
"Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (Rahmat_Nya) lagi Maha Mengetahui".
2. QS Al Baqarah ayat 186
"Dan apabila hamba-hamba_Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada_Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah_Ku) dan hendaklah mereka beriman kepda_Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran".
3. QS Qof ayat 16 
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya".
4. QS Al Kahfi ayat 65
"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami".

Pada mulanya para sufi mengajarkan ajaran Tasawuf terbatas kepada beberapa muridnya saja, yang akhirnya menyebar menjadi beberapa kerukunan atau ikatan kekeluargaan. Para murid yang menerima ajaran dari para sufi yang sealiran akhirnya membentuk suatu faham atau aliran tertentu yang dengan aliran dan corak Tasawuf masing-masing. Metode dan aliran itulah yang akhirnya membentuk suatu kelompok yang disebut "Thoriqot" atau "Tarekat" dalam bahasa Indonesia. Di Indonesia istilah "Tarekat" juga merujuk kepada perkumpulan orang-orang yang merupakan pengikut dari aliran-aliran tasawuf. Sedangkan di Timur Tengah dipakai istilah "Tho'ifah" yang berarti keluarga atau persaudaraan. Contohnya adalah Tarekat Khalawatiyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Qadariyah, Tarekat Rifa'yah, Tarekat Syaziliah dll. "Thoriqot" berasal dari kata "Thoriq" yang berarti jalan. Sedangkan untuk memasuki "jalan" itu haruslah kita melangkah untuk "memulai" nya.  "Memulai"  dalam bahasa Arab adalah "Syara'a" yang merupakan asal kata dari "Syari'at"

Disinilah bahwasanya "Thoriqot" atau "Tarekat" adalah jalan yang oleh para sufi digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari "Syari'at". Hal inilah yang menunjukkan bahwa menurut para sufi, pendidikan "Tasawuf" merupakan jalan yang berasal dari hukum Allah (Syari'at) sebagai pijakan semua Muslim. Tidak mungkin kita akan memasuki sebuah jalan jika tidak ada langkah untuk memulainya (Syari'at) sebagai permulaan. Bahwasanya pengalaman Tasawuf tidak  mungkin di dapat bila perintah "Syari'at" yang mengikat tidak dita'ati terlebih dahulu dengan seksama.

Orang yang belajar tarekat akan melakukan"Suluk" yang secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan Sufisme kata Suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan Suluk (Bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (Syari'at) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (Hakikat). Bersuluk juga mencakup hasrat untuk mengenal diri, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan, dan pencarian kebenaran sejati (Ilahiyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syari'at lahiriah sekaligus syari'at bathiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Seseorang yang melakukan Suluk (bersuluk) disebut "Salik". Seorang Salik adalah seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan "Sufisme" untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya. Dalam masyarakat Sasak banyak hal yang dilakukan saat bersuluk. Zaman dahulu masyarakat Sasak pergi ke Gunung Rinjani untuk mencari ketenangan dari hiruk pikuk dunia agar bisa mendekatkan diri kepada Allah. Salik juga sering disebut sebagai murid ketika menjalani tarekat dibawah bimbingan guru sufi tertentu (Mursyid).

Bagi kalangan sufi "silsilah" atau garis keguruan seorang "Mursyid" sangat penting, karena menyangkut hubungannya dengan guru-guru tarekat yang lain dimana nanti akan kembali ke Nabi Muhammad SAW. Karena para sufi mengakui bahwa dasar-dasar pemikiran dan amalan sebuah tarekat berasal dari Rasulullah secara langsung.

Idealnya setiap Mursyid yang tercantum dalam sebuah silsilah merupakan murid langsung dari Mursyid sebelumnya, walaupun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Terkadang dua orang yang berurutan dalam sebuah silsilah tidak pernah berjumpa secara langsung, karena Mursyid yang pertama wafat sebelum Mursyid yang kedua lahir. Atau mereka tinggal di negeri yang berjauhan sehingga sangat mustahil untuk bisa bertemu secara langsung. Tetapi pertemuan itu terjadi melalui komunikasi secara spiritual, yaitu pertemuan lewat wujud ruhaninya. Hubungan yang demikian itu sering disebut sebagai "Barzakhy" ataupun"Uwaisy" (Pemberian").

Disebut "Barzakhy" karena pembaiatan seorang Mursyid berasal dari alam barzakh, yaitu alam sebagai tempat bersemayamnya ruh bagi orang yang sudah meninggal dunia sebelum datangnya hari kebangkitan. Sedangkan disebut "Uwaisy" atau "Pemberian" didasarkan pada kisah Uwaisy Al Qorni. Seorang pemuda dari Yaman sangat istimewa di mata Rasulullah walaupun beliau tidak pernah bertemu dengannya. Ketika Uwaisy Al Qorni pergi ke Madinah ingin bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, justru Rasulullah sedang tidak ada di rumah karena sedang di medan perang. Sekembalinya dari medan perang Rasulullah menanyakan kepada Aisyah RA mengenai orang yang mencarinya itu. Aisyah menanyakan siapakah gerangan pemuda Yaman tersebut. Saat itu Rasulullah SAW mengatakan "Uwaisy sangat taat kepada ibunya, adalah penghuni langit". Uwaisy Al Qorni dipercaya diislamkan oleh Rasulullah walaupun tidak pernah bertemu secara langsung. Sampai-sampai Rasulullah berpesan kepada Umar Bin Khattab dan Ali Bin Abi Thalib "Suatu ketika ketika kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istigfarnya, dia adalah penghuni langit bukan orang bumi".

Di masyarakat Sasak sendiri mayoritas menjadi pengikut tarekat Naqsabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad Bin Baha'uddin Al Huwaisyi Al Bukhari (717-791 H). Pendiri tarekat ini juga dikenal dengan nama Naqsabandiy yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata "Huwaisy" pada namanya karena ia ada hubungan dengan Uwaisy Al Qorni. Ada enam dasar yang menjadi pegangan untuk mencapai tujuan dalam tarekat ini, yaitu:
1. Taubat
2. Uzla (mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya).
3. Zuhud (tidak mementingkan hal-hal yang bersifat keduniawian dengan kata lain memanfaatkan dunia untuk keperluan hidup seperlunya saja).
4. Taqwa
5. Qona'ah (menerima dengan senang hati segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT).
6. Taslim (kepatuhan dan penyerahan diri hanya kepada Allah SWT)

Tidak lupa juga kita harus waspada jangan sampai keinginan mempelajari Tasawuf justru membawa kita ke ajaran yang menyimpang dan jauh dari akhidah Islam yang sesungguhnya.

Wallohu A'lam Bisshawwab....





Selasa, 29 Oktober 2019

Materi Mountaineering

Mountaineering

Lokasi: Gunung Rinjani 

Saat ini mendaki gunung bukan lagi menjadi kegiatan langka terutama di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Bahkan bagi beberapa orang beranggapan bahwa mendaki gunung adalah sebuah gaya hidup (life style). Seperti diketahui bahwa mendaki gunung adalah kegiatan alam bebas yang berbahaya, keras, penuh tantangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan dan daya juang yang tinggi. Akan terapi sisi berbahaya dan tantangan justru menjadikan kegatan mendaki gunung memiliki daya tarik tersendiri.

Sisi berbaya dan penuh tantangan inilah yang akan menjadi penguji bagi para Pendaki (Mountaineer) untuk selalu menyelaraskan diri dengan alam yang keras dan liar. Keberhasilan sebuah pendakian merupakan sebuah wujud dari kemenangan para pendaki mengalahkan ego pribadi dan rasa takut. Guna mencapai kesuksesan dalam setiap pendakian pengetahuan dan skill seorang Pendaki sangat menunjang terutama untuk beberapa gunung yang memang dikenal memiliki tingkat kesulitan yang khas. Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang pendaki adalah materi Mountaineering. 

Pengertian Mountaineering
Kata Mountaineering berasal dari kata Mountain yang berarti Gunung, jadi Mountaineering bisa diartika sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan gunung atau dalam arti yang lebih luas adalah suatu proses pendakian gunung dari baru mulai berjalan kaki sampai dengan menggapai puncak-puncak gunung terutama untuk gunung-gunung yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Ada banyak alasan seseorang untuk melakukan kegiatan Mountaineering, dimana diantara beberapa alasan itu adalah:
1. Mata pencaharian
2. Adat istiadat
3. Agama/ Kepercayaan
4. Ilmu Pengtahuan
5. Olah raga
6. Rekreasi
7. Petualangan

Terminologi Gunung
1. Gunung: Suatu bentuk permukaan tanah yang letaknya jauh lebih tinggi daripada tanah-tanah yang ada di sekitarnya
2. Pegunungan: kumpulan atau gugusan beberapa gugusan gunung besar dan kecil yang memanjang dan sambung-menyambung satu sama lain.
3. Bukit: Suatu bentuk wujud alam wilayah bentang alam yang memiliki permukaan tanah yang lebih tinggi dari permukaan tanah di sekelilingnya namun dengan ketinggian relatif rendah dibandingkan dengan gunung. 
4. Perbukitan: Beberapa bukit yang berjajar atau suatu rangkaian bukit yang panjang pada suatu daerah yang luas.
5. Tebing: Formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing selain ditemukan di gunung juga bisa ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sungai.
6. Plateu: Dataran yang terletak pada ketinggian (di atas 700 mdpl)
7. Summit: Puncak gunung


Sejarah Mountaineering
Pendakian gunung sebenarnya sudah dilakukan oleh para nenek moyang kita terutama nenek moyang ummat manusia yaitu Nabi Adam ketika mencari belahan jiwanya Siti Hawa. Dimana kemudian Allah mempertemukan Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah yang berarti Gunung Kasih Sayang. Isteri Nabi Ibrahim yang bernama Siti Hajar juga melakukan hal yang sama, berlarian diantara gunung Shafa dan Marwah untuk mencarikan anaknya Nabi Ismail air minum di tengah gurun yang gersang. Dimana akhirnya atas kehendak Allah SWT keluar air diantara bekas pijakan bayi Ismail yang kemudian diberikan nama Air Zam Zam. Dan pendakian demi pendakian akan terus dilakukan oleh kita atau generasi setelah kita demi menjaga kelanggengan ummat manusia dalam menjaga keselarasan dengan alam. 
Ada beberapa jenis kegiatan mountaineering yang bisa dilakukan oleh seorang mountaineer.

Hiking atau Hill Walkiing
Hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah wilayah bukit yang tidak terlalu tinggi dengan kontur tanah tidak terlalu terjal dan kemiringan kurang dari 45 derajat. Saat melakukan hiking biasanya tidak dibutuhkan alat bantu khusus atau hanya megandalkan kedua kaki sebagai alat utama. 

Scrambling
Level berikutnya setelah Hiking adalah Scrambling yang merupakan kegiatan mendaki ke wilayah-wilayah yang lebih tinggi dari bukit dengan kemiringan yang lebih ekstrim yaitu di atas 45 derajat. Jika dalam Hiking kaki adalah alat utama dan tidak memerlukan alat bantu khusus, maka dalam Scrambling tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang gerakan kaki dalam membantu menjaga keseimbangan. Karena derajat kemiringan daratan yang lumayan ekstrim, keseimbangan para pendaki perlu dijaga dengan tangan mencari pegangan disekitarnya. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menunjang pergerakan naik dan menjaga keseimbangan tubuh.

Climbing
Climbing merupakan level mountaineering yang paling ekstrim. Dimana Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight (biasa disebut figur 8), sling dan deretan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu memang sesuai dengan medan jelajah Climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja jika kita memanjat tebing batu dengan kemiringan 80 - 90 derajat. 

Peralatan Mountaineering 
Ada beberapa alat dasar kegiatan mountaineering seperti ransel atau carrier, Vedples atau botol air, sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, alti meter, korek, pisau, senter, matras dan bahkan alat tulis mutlak dibutuhkan selain juga peralatan Climbing yang sewaktu-waktu juga dibutuhkan sesuai dengan kondisi medan.
Contoh beberapa peralatan


Persiapan dalam sebuah pendakian
1. Berpikir logis
hal ini merupakan elemen terpenting dalam membuat keputusan selama pendakian, dimana berfikir logis lebih banyak mempertimbangkan faktor safety atau keselamatan.
2. Memiliki pengetahuan dan keterampilan
Pengetahuan dan keterampilan ini meliputi pengetahuan tentan medan (navigasi), cuaca dan teknik pendakian, pengetahuan tentang alat pendakian atau pengetahuan climbing serta pengetahuan lainnya.
3. Bisa mengkoordinir tubuh
Maksdunya adalah bisa mengkoordinir anggota tubuh antara otak dengan anggota tubuh lainnya. Haruslah ada keseimbangan antara apa yang dipikirkan otak dengan apa yang bisa dilakukan oleh anggota tubuh. 
4. Kondisi fisik yang memadai
Hal ini menjadi fokus utama karena mendaki gunung termasuk dalam olah raga yang cukup berat. Berhasil atau tidaknya suatu pendakian atau pemanjatan tergantung pada kekuatan fisik. Maka dari itu latihan atau pemanasan sebelum melakukan pendakian/ pemanjatan harus dilakukan agar fisik senantiasa dalam kondisi baik dan siap.

Perencanaan perlengkapan pendakian
Dalam sebuah pendakian atau petulangan di alam bebas, persiapan segala sesuatu yang menunjang petualangan mutlak dilakukan. Terutama kesiapan fisik dan mental yang merupakan modal dasar seorang mountaineer. Selain itu perlengkapan dan peralatan adalah pendukung keberhasilan sekaligus sebagai tolak ukur seorang montaineer.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan perlengkapan dan peralatan adalah:
1. Mengenal medan yang akan dilalui (hutan, sungai, rawa, semak, tebing maupun kondisi sosial masyarakat di wilayah setempat).
2. Menentukan tujuan pendakian (ekspedisi, latihan, SAR, penelitian ataupun wisata/ rekreasi).
3. Menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pendakian.
4. Mengetahui kemampuan fisik dalam membawa beban (beratnya tidak lebih dari sepertiga berat badan atau antara 15 kg - 20 kg).
5. Menyiapkan hal-hal lain yang mungkin dibutuhkan selama perjalanan seperti vitamin, obat-obatan terntentu, peta dll.

Setelah mengetahui hal-hal di atas maka kita bisa mempersiapkan peralatan dan perbekalan (logistik) yang sesuai dan selengkap mungkin. Jangan lupa buatkan check list barang yang harus dibawa, agar tidak kurang dan tidak berlebih karena akan berpengaruh pada beban yang akan dibawa.

Salam Lestari...!!! 

Kamis, 19 September 2019

Sejarah Desa Teros

Sejarah Berdirinya Desa Teros

Desa Teros adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desa Teros merupakan salah satu Desa Tua dan beberapa wilayahnya sudah dimekarkan menjadi beberapa Kelurahan dan Desa. Sejarah Desa Teros tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kerajaan Selaparang dimasa lalu.
Wajah baru kantor Desa Teros setelah direnovasi
Bunut (Beringin) di depan kantor Desa Teros yang menjadi ikon Desa Teros

Sebelum menjadi Raja Selaparang, Raja Dewa Meraja Kesuma yang memiliki julukan masa kecil Doyan Mangan/ Doyan Neda membagikan wilayah kepada dua orang saudara angkatnya yaitu Sigar Penjalin dan Arya Waringin/ Arya Beringin. Pembagian wilayah ini dilakukan di daerah yang kemudian dinamakan Jero Aru (Jero Baru). Kata "Jero" dalam bahasa Sasak kuno berarti "Pemimpin" atau orang yang menguasai suatu wilayah. Dalam pembagian wilayah ini diputuskan bahwa Sigar Penjalin ditempatkan di daerah Sembah Ulun (Sembalun) sebagai Raja dengan wilayah meliputi Lombok bagian Utara. Sedangkan Arya Waringin ditempatkan di Lombok bagian Barat dan Lombok bagian Tengah sebagai Raja dengan pusat di daerah Langko.
Kemudian Doyan Mangan/ Doyan Neda sendiri kembali ke Selaparang dan naik tahta menjadi Raja Selaparang. Selaparang sendiri dijadikan sebagai pusat semua kerajaan (kedatuan) yang ada di Lombok. dan Raja Selaparang menyandang gelar Dewa Meraja Kesuma. Penduduk Kerajaan Selaparang dari hari ke hari semakin bertambah banyak, seiring dengan semakin pesatnya perkembangan Kerajaan Selaparang. Raja Dewa Meraja Kesuma kemudian memerintahkan beberapa orang pemuka Kerajaan untuk mencari wilayah baru yang bisa dijadikan sebagai tempat pemukiman.  Raja kemudian meminta tiga bersaudara yang juga masih kerabatnya untuk mengemban tugas tersebut,  ketiga kerabat Raja tersebut adalah Patih Akar, Patih Cinis dan Patih Suliwangi.

Patih Akar kemudian bersama pengikutnya pindah ke daerah yang bernama Monggok yang saat ini lebih dikenal sebagai daerah Kelayu (Kelurahan Kelayu). Sedangkan kedua saudaranya yaitu Patih Cinis dan Patih Suliwangi membawa pengikutnya ke daerah bagian Selatan, yaitu sebuah daerah yang kemudian dinamakan Parwa (saat ini menjadi Peroa setelah ditempati masyarakat dari Suradadi dan Sakra). Tanah Parwa memiliki bentuk segitiga yang semakin ke ujung semakin mengecil (berbentuk Tirus), hal ini disebabkan tanah Parwa diapit oleh dua sungai (kokoq) yaitu sungai (kokoq) Sakra dan sungai (kokoq) Palung.

Patih Cinis dan Patih Suliwangi tidak lama menetap di Parwa karena menganggap tanah Parwa tidak cocok dijadikan sebagai tempat tinggal dan penduduk juga tidak bisa berkembang dengan baik. Maka dari itu Patih Cinis dan Patih Suliwangi membawa pengikutnya pindah ke daerah lain di dekat daerah Monggok yang merupakan daerah yang ditempati oleh Patih Akar dan pengikutnya. Adalah hal yang kebetulan atau memang hal yang disengaja ternyata tanah tujuan baru itu juga ternyata memiliki bentuk yang sama dengan tanah sebelumnya di Parwa, berbentuk segitiga (bentuk Tirus). Tanah ini juga diapit oleh dua buah sungai (kokoq) yaitu sungai (kokoq) Benyer dan sungai (kokoq) Belimbing, daerah baru ini kemudian dinamakan Nanot (Nanyot). 

Entah pemikiran apa yang melatar belakangi Patih Cinis dan Patih Suliwangi merasa perlu untuk pindah lagi ke bagian selatan Nanot (Nanyot) yang lokasinya lebih dekat lagi dengan daerah Monggok (Kelayu). Daerah ini pun berbentuk tirus karena diapit oleh dua sungai, yaitu sungai (kokoq) Belimbing dan sungai (kokoq) Tojang. Dikarenakan sudah tiga kali pindah tempat ke daerah yang berbentuk segitiga (bentuk Tirus), maka daerah ini dinamakan Teros. Jadi nama Teros diambil dari kata "Tirus" yang berarti bentuk segitiga yang semakin ke ujung bentuknya semakin mengecil. Di tempat inilah Patih Cinis dan Patih Suliwangi hidup agak lama, dan ditempat ini juga kemudian Patih Cinis dan Patih Suliwangi dikuburkan setelah wafat. Dalam perjalanan hidupnya Patih Cinis tidak memiliki keturanan, sedangkan yang memiliki keturanan adalah Patih Suliwangi. 

Dalam perkembangan selanjutnya kehidupan masyarakat di Teros berkembang sangat pesat dan merasa agak sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal ini disebabkan oleh lokasinya yang diapit oleh dua sungai. Hal ini berdampak kepada masalah perekonomian penduduk khususnya jual beli  di pasar maupun menuju lokasi pertanian. Kesulitan ini disebabkan oleh dua sungai yang mengapit wilayah Teros terutama di musim penghujan, masyarakat merasa kesulitan menyeberang karena arus sungai yang deras. Guna mengatasi permasalahan ini satu-satunya cara adalah dengan mengajak seluruh penduduk Teros untuk pindah lagi ke wilayah Selatan yang dirasa lebih menguntungkan. 

Di daerah baru ini masyarakat membuat sebuah pegubukan (pemukiman) baru yang diberi nama gubuk (dusun) Selungkep. Setelah perpindahan ini lokasi pemukiman lama dijadikan sebagai areal pekuburan yang disebut kubur Teros/ kubur Reban. Kian lama penduduk Selungkep semakin banyak maka dibangunlah pemukiman baru yang dinamakan Gubuk Memontong, Gubuk Bebai, Gubuk Tuntang, Gubuk Apit Aik, Gubuk Kokoq Daya dan Gubuk Timbak. Masing-masing Gubuk dibentuk sedemikian rupa dengan dibatasi oleh gang disetiap blok, hal inilah yang membuat Dusun di luar Dusun Selungkep terlihat lebih rapi dan lebih tertata dengan gang yang lebih lebar.  Setelah berjalan sekian lama Gubuk Selungkep namanya kemudian dirubah menjadi Teros, agar namanya sama dengan nama pemukiman sebelumnya. 

Setelah berjalan sekian lama, kehidupan warga Teros di tempat baru nyaris tidak ada gejolak dan berjalan sebagaimana mestinya. Pada masa kepemimpinan Jero Sandi (sekitar tahun 1830_an) yang dianggap memiliki pemikiran yang lebih maju, maka seluruh Pegubukan itu disatukan menjadi sebuah Desa yang disebut Desa Teros (sebagaimana Desa Teros yang kita kenal sampai saat ini). Pada perkembangan selanjutnya Desa Teros diperluas menjadi beberapa Gubuk (Dusun) lagi seperti Kembang Kuning dan Loang Tuna. Saat ini ketiganya sudah mekar menjadi Desa Banjar Sari. Mata pencaharian masyarakat Teros dimasa itu adalah sebagai petani, wilayah pertaniannya cukup luas dan berbatasan langsung dengan beberapa Desa lain. Sebelah Timur berbatasan dengan Sisik (Labuhan Haji), Sebelah Selatan berbatasan dengan Gandor, dan sebelah Barat berbatasan dengan Monggok (Kelayu). 

Dibawah kepemimpinan Jero Sandi penduduk hidup makmur dan aman, hingga beberapa tahun kemudian. Kekacauan timbul di Desa Teros disebabkan oleh Kepala Desa Kelayu Jero Ratmaya yang meminta kepada Jero Sandi untuk menyerahkan tanah sawah yang ada di sebelah barat Desa Teros (kemungkinannya adalah daerah Kokoq Lauq Kelayu Selatan). Ternyata Jero Sandi menyerahkan begitu saja tanah sawah tersebut tanpa keberatan. Karena peristiwa tersebut sejumlah warga tidak puas dan menganggap Jero Sandi sedang dalam kondisi mabuk minuman keras saat menyerahkan tanah tersebut. Keputusan itu membuat beberapa pemuka masyarakat kecewa dan marah akan ulah Jero Sandi (Kepala Desa). Masyarakat yang tidak menerima keputusan tersebut akhirnya membuat rencana untuk membunuh Jero Sandi, dan pada peristiwa tersebut Jero Sandi langsung mati terbunuh. Pemuka masyarakat yang terlibat dalam pembunuhan tersebut akhirnya dihukum dengan dipindahkan ke wilayah yang sekarang bernama Dasan Sawe.  

Sepeninggal Jero Sandi terjadi kekosongan kepemimpinan di Desa Teros. Karena Desa Teros tidak ada yang memimpin maka dengan sendirinya Anak Agung Murah (*kemungkinan yang dimaksud adalah Raja Anak Agung Anglurah Gede Karangasem yang memerintah dari tahun 1870 - 1894) yang saat itu menjadi Raja Lombok meminta Jero Mengkudu yang saat itu menjadi Kepala Desa Labuhan Haji pulang ke Teros untuk menjadi Kepala Desa Teros. Tidak ada riwayat yang menjelaskan kenapa masyarakat Desa Teros tidak langsung mengangkat pemimpin sendiri sepeninggal Jero Sandi. Pada waktu itu Desa Labuhan Haji memilik penduduk yang sangat sedikit dengan tanah pertaniannya sangat luas. 

Setelah Jero Mengkudu wafat jabatan Kepala Desa Teros dipegang oleh anaknya yang bernama Jero Nursayang. Jero Nursayang ikut memimpin pemberontakan melawan pemeritahan Belanda di Sisik bersama dengan Kepala Desa yang lain yaitu: Mamiq Mustiasih Kepala Desa Gandor dan Jero Rawit Kepala Desa Apitaik. Mamiq Mustiasih meninggal di Toyang yang masuk wilayah Sakra, sedangkan Jero Nursayang, Jero Bajang Jambun (putera Jero Nursayang) dan Jero Rawit dibuang ke Banyuwangi Jawa Timur. Jero Nursayang wafat di Teros sekembalinya dari pengasingan di Bayuwangi, sedangkan puteranya Jero Bajang Jambun dan Jero Rawit Kepala Desa Apitaik wafat di Banyuwangi Jawa Timur. 

Desa Teros memiliki sejarah yang panjang dan harus diceritakan kembali ke generasi selanjutnya, agar generasi penerus Desa Teros tidak lupa akan sejarah asalnya dan semangat perjuangan para pendahulu. Desa Teros lahir dari untaian perjalanan panjang yang harus dibela sampai kapanpun, tentu saja dengan sama-sama mebangunnya untuk kehidupan anak cucu yang lebih baik. 

Selain bermukim di Teros, warga Teros juga banyak membentuk pemukiman baru di luar Teros, diantaranya adalah Dasan Tinggang dan Lendang Belo (Keluraha Kelayu Jorong), Erot dan Ketangga (Kelurahan Kembang Sari). Gunung Timba, Gunung Siup dan Dasan Gedang (Desa Denggen Timur), Batu Belek (Kelurahan Rakam), Kembang Kerang (Kec. Aikmel),  Karang Sukun Mataram, Dusun Golong Desa Beleka Lombok Tengah) dan Kembang Kerang Desa Aik Daerek Lombok Tengah.

Sumber: Amaq Mustirin/ Haji Nurhayat Muhsinin dan Hamidi (Guru SDN 3 Teros) dan berbagai sumber

Senin, 16 September 2019

Sejarah Kota Selong

Sejarah Berdirinya Kota Selong

Kota Selong merupakan ibu Kota Kabupaten Lombok Timur, salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kabupaten Lombok Timur memiliki luas wilayah 1.605,55 KM², dan secara geografis Kabupaten Lombok Timur terletak antara 116⁰ - 117⁰ Bujur Timur dan 8⁰ - 9⁰ Lintang Selatan. Nama Selong berasal dari bahasa Sasak yang artinya adalah tempat pengasingan atau penjara. Nama ini bukanlah tanpa dasar, karena Kota Selong pertama kali dibuka oleh penjajah Belanda sebagai tempat pengasingan bagi tawanan dari Desa Gandor dan Desa Teros. Untuk itulah di pusat Kota Selong ada Dasan Gandor (samping lapangan Nasional) dan Dasan Teros (tepat di Rumah Tahanan Selong). Sejarah berdirinya Kota Selong memang kental dengan kisah heroik para pejuang pada saat Belanda baru saja menguasai Lombok. Perang yang dalam sejarah Lombok dikenal sebagai "Perang Gandor". 
Masjid Raya Al Mujahidin Ikon Kota Selong (credit Bumi Nusantara blogspot)
Sejarah Perang Gandor
Meletusnya perang Gandor sebenarnya dipicu oleh hal sepele, dimana saat itu masyarakat melakukan sabung ayam tanpa izin. Pada peristiwa itu penjajah Belanda menangkap saudara laki-laki dari Jero Rawit yang saat itu menjadi pemimpin (kepala Desa) Apitaik. Jero Rawit merasa malu karena pihak Belanda memenjarakan saudara laki-lakinya. Hukuman itu dirasa sangat tidak adil dan sangat menyinggung kehormatannya sebagai pemimpin Apitaik. Oleh sebaba itu Jero Rawit merasa lebih baik mati atau memberikan malu yang seimbang kepada Belanda yang ada di Sisik (Ibu Kota Lombok Timur saat itu). 
Untuk mencapai maksud tersebut Jero Rawit meminta bantuan kepada Mamiq Mustiasih pemimpin Gandor dan Jero Nursayang pemimpin Teros. Jero Rawit juga meminta bantuan Lalu Talip (Mamiq Ocet) dari Mamelak (Praya), yang kebetulan sakit hati kepada Belanda karena merasa kecewa atas kebijakan Belanda tentang pengaturan dan penempatan personil di Mamelak (Praya). Lalu Talip merasa berjasa ketika perang menumpas kerajaan Mataram di Mayure, tetapi justru tidak mendapatkan kedudukan. Karena itulah bantuan yang diminta oleh Jero Rawit segera dipenuhi dengan mengirimkan pasukan ke Gandor di bawah pimpinan Mamiq Badil. 
Maka pada malam Sabtu 1 Muharam 1314 Hijriah bertepatan dengan 13 Juni 1896 markas Tentara Belanda di Sisik diserang dari arah Barat (Gandor). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari sehingga pasukan di bawah pimpinan Mamiq Mustiasih mundur dan bertahan di Gandor. Dalam pertempuran terakhir Gandor akhirnya dibumi hangsukan oleh Belanda yang membuat pasukan perlawanan menjadi kacau balau. 
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh pihak Belanda dan menangkap semua pemimpin perang termasuk Jero Rawit, Jero Nursayang dan anaknya Jero Bajang Jambun. Para pemimpin perang Gandor ini akhirnya dibuang oleh Belanda ke Banyuwangi Jawa Timur. Sedangkan Mamiq Mustiasih dan beberapa pasukan dari Gandor dan Teros bisa meloloskan diri ke Mamelak dan bergabung dengan Lalu Talip, dan pasukannya yang berhasil ditangkap diasingkan ke Hutan Selong. Mamiq Mustiasih meninggal dunia di Toyang (wilayah Sakra), Jero Nursayang meniggal di Teros sekembalinya dari Banyuwangi, Sedangkan Jero Rawit dan Jero Bajang Jambun (putra Jero Nursayang) meninggal di Banyuwangi. 
Pada tahun 1896 Belanda membuka hutan Selong dengan "tawanan" Perang Gandor sebagai penduduk pertamanya. Belanda kemudian menjadikan Selong sebagai Onder Afdeling Lombok Timur yang memrupakan tempat kedudukan Controuleur. Jadi bila dilihat dari sejarahnya maka Kota Selong pada tahun 2019 ini berusia 123 tahun. 

*Dari berbagai sumber